Historia UPY Site
Rubrik : Artikel Sejarah
Kesultanan Demak
2011-10-18 08:51:44 - by : admin


Dalam
berbagai catatan mengenai keruntuhan Majapahit secara tertulis tidak ada sumber
tertulis yang dapat memberikan jawaban tepat tentang waktunya. Babad Tanah Jawi
menyebutkan Kerajaan Majapahit runtuh karena serangan Kerajaan Islam Demak pada
1478 Masehi atau 1400 saka. Dalam bahasa Jawa Kuno tahun 1400 tersebut biasa diperlambangkan dengan candra
sengkala
berbunyi "sirna ilang kertaning bumi" yang dapat diterjemahkan sebagai
musnahnya kemakmuran dan keberadaan sebuah negeri. Sementara itu, prasasti-prasasti dan berita-berita asing memberi rambu-rambu
runtuhnya Kerajaan Majapahit terjadi pada awal abad XVI Masehi. Serat Kanda dan
Serat Darmogandul hanya memberitakan samar-samar tentang penaklukan Majapahit
oleh Demak. Pada tahun 1478 Masehi, Bhre Kertabhumi gugur di Keraton Majapahit
karena serangan dari Dyah Ranawijaya, anak Bhre Pandan Alas. Tahun itulah yang
dijadikan pertanda hilangnya Majapahit, sirna ilang kertaning bumi. Versi lain menyebutkan bahwa pada tahun 1478 ini Dyah Kusuma Wardhani dan
suaminya, Wikramawardhana, mengundurkan diri dari tahta Majapahit. Kemudian
mereka digantikan oleh Suhita. Pada tahun 1479, Wirabumi, anak dari Hayam
Wuruk, berusaha untuk menggulingkan kekuasaan sehingga pecah Perang Paregreg
(1479-1484). Pemberontakan Wirabumi dapat dipadamkan namun karena hal itulah
Majapahit menjadi lemah dan daerah-daerah kekuasaannya berusaha untuk
memisahkan diri. Dengan demikian penyebab utama kemunduran Majapahit tersebut
ditengarai disebabkan berbagai pemberontakan pasca pemerintahan Hayam Wuruk,
melemahnya perekonomian, dan pengganti yang kurang cakap serta wibawa politik
yang memudar. Pada saat kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara praktis
wilayah-wilayah kekuasaannya mulai memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang
terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling serang, saling mengklaim
sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus kekuasaan mengerucut pada
dua adipati, yaitu Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging
mendapat dukungan dari Syech Siti Jenar. Sehingga dengan demikian keruntuhan Majapahit pada masa itu dapat dikatakan
tinggal menunggu waktu sebab sistem dan pondasi kerajaan telah mengalami
pengeroposan dari dalam.


Kesultanan
Demak adalah kesultanan Islam pertama di Jawa yang didirikan oleh Raden Patah
pada tahun 1478.
Demak pada masa sebelumnya merupakan suatu daerah yang dikenal dengan nama
Bintoro atau Gelagah Wangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan
Majapahit. Kesultanan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah dengan pusat pemerintahannya
di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang dikelilingi oleh daerah rawa yang
luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut Muria sudah merupakan dataran
rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak
antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada
masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara
akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak. Salah
satu peninggalan bersejarah Kesultanan Demak ialah Mesjid Agung Demak, yang
diperkirakan didirikan oleh para Walisongo. Lokasi ibukota Kesultanan Demak
saat ini telah menjadi kota Demak di Jawa Tengah. Dengan berkembangnya Islam di
Demak, maka Demak berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran Islam di
pulau Jawa.


Raja
pertama Kesultanan Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang
keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Raden Patah
adalah menantu Malik Ibrahim, pengajar Islam di Jawa Timur yang juga dikenal
dengan nama Raden Rahmat. Malik Ibrahim atau Raden Rahmat menikah dengan salah
satu putri Majapahit dan dia kemudian dianugerahi Kadipaten Demak sebagai
daerah kekuasaannya. Kemudian salah satu putri dari Malik Ibrahim menikah
dengan Raden Patah. Pasca runtuhnya kerajaan Majapahit maka Raden Patah
menggantikan kekuasaan ayahnya di Majapahit dan sekaligus mertuaya di Demak. Dengan demikian kekuasaan Raden Patah bukan hanya didasarkan sebagai strategi
penyebaran Islam semata atau pun perebutan kekuasaan politik namun berdasarkan
garis keturunan dia memiliki hak atas tahta Majapahit. Akan tetapi dalam versi
lain, nama Malik Ibrahim juga dikenal sebagai nama asli Sunan Gresik yang telah
wafat pada tahun 1419 dan tidak ditemukan catatan yang menyebutkan secara jelas
bahwa dia pernah menjadi penguasa Demak. Selain itu nama Raden Rahmat juga merupakan nama lain dari Sunan Ampel. Dengan demikian tidak jelas apakah Malik Ibrahim yang menjadi mertua Raden
Patah yang dimaksud di atas adalah sosok yang sama dengan Malik Ibrahim yang
kemudian dikenal sebagai Sunan Gresik, salah satu sesepuh Walisongo. Maulana
Malik Ibrahim yang terakhir ini juga dikenal sebagai "arsitek" berdirinya kerajaan Demak.


Kesultanan Demak mengalami kemunduran
karena terjadi perebutan kekuasaan antar kerabat kerajaan. Pada tahun 1568,
kekuasaan Kesultanan Demak beralih ke Kesultanan Pajang yang didirikan oleh
Jaka Tingkir. Demak pada masa sebelumnya sebagai
suatu daerah yang dikenal dengan nama Bintoro atau Gelagahwangi yang merupakan daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit.Kadipaten Demak tersebut dikuasai oleh Raden Patah salah seorang keturunan Raja Brawijaya V (Bhre Kertabumi) yaitu raja Majapahit. Dengan berkembangnya Islam
di Demak, maka Demak dapat berkembang sebagai kota dagang dan pusat penyebaran
Islam di pulau Jawa. Hal ini dijadikan kesempatan bagi Demak untuk melepaskan
diri dengan melakukan penyerangan terhadap Majapahit. Setelah Majapahit hancur
maka Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di pulau Jawa dengan rajanya
yaitu Raden Patah. Kerajaan Demak secara geografis terletak di Jawa Tengah
dengan pusat pemerintahannya di daerah Bintoro di muara sungai Demak, yang
dikelilingi oleh daerah rawa yang luas di perairan Laut Muria. (sekarang Laut
Muria sudah merupakan dataran rendah yang dialiri sungai Lusi). Bintoro sebagai
pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah
pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa
Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting
bagi kerajaan Demak.



Historia UPY Site : http://localhost
Versi Online : http://localhost/?pilih=news&aksi=lihat&id=88