headerphoto

LULUS

Selasa, 1 Mei 2012 08:09:45 - oleh : admin

Ini kabar tak menyenangkan bagi calon sarjana baru mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Dirjen Dikti Djoko Santosa telah meneken aturan baru. Surat Edaran No. 152/E/T/2012 tertanggal 27 Januari 2012 yang ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS mengharuskan untuk lulus S-1, S-2, S-3 mahasiswa wajib mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah (Kompas.com, 03/02/2012). Nah, loe!

Saya katakan ‘tidak menyenangkan' karena mayoritas mahasiswa memang tidak suka menulis. Apalagi menulis ilmiah, menulis yang tidak ilmiah saja mereka sulit. Paling tidak inilah alasan yang melahirkan surat edaran itu. Jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Dibandingkan dengan Malaysia saja, hanya 1/7 (sepertujuh) dari karya ilmiah yang lahir di perguruan tinggi di sana. Artinya mahasiswa kita memang tidak suka menulis. Nah, kalau kita dipaksa untuk menulis, melakukan sesuatu yang tidak kita senangi pasti tidaklah menyenangkan.

Apa isi surat edaran itu?

1.  Untuk lulus program Sarjana (S1) harus menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah

2.  Untuk lulus program Magister (S-2) harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah, utamanya yang terakreditasi

3.  Untuk lulus program Doktor (S-3) harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal ilmiah Internasional.

Sudah pasti surat edaran itu menimbulkan kebingungan di kalangan dunia perguruan tinggi. Apalagi sebelumnya tidak pernah ada sosialisasi dan penjelasan tentang aturan ini. Dari substansi memang aturan baru ini baik mengingat selama ini mahasiswa kita mandul dalam hal menghasilkan karya ilmiah. Tapi kalau publikasi makalah pada jurnal ilmiah ini menjadi persyaratan kelulusan, apakah mahasiswa kita sudah siap memenuhi ketentuan ini?

Terutama aturan yang mengharuskan lulusan program S-1 untuk menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah. Perlu penjelasan yang lebih rinci tentang pelaksanaanya. Saat ini jurnal ilmiah baru dimiliki oleh perguruan tinggi papan atas sedangkan perguruan tinggi golongan bawah banyak yang belum yang memiliki jurnal ilmiah. Mungkin juga masih sangat banyak mahasiswa yang sejak mulai masuk kuliah sampai dinyatakan lulus belum pernah melihat apa itu yang disebut jurnal ilmiah.

Nah, kalau instansi pendidikan yang bersangkutan tidak mempunyai jurnal ilmiah kemana mahasiswa S-1 itu harus mengirimkan makalahnya untuk dimuat? Ke perguruan tinggi terdekat yang sudah mempunyai jurnal? Jurnal minimal terakreditasi B atau cukup pada jurnal yang belum terakreditasi tapi sekarang sudah ada dan diakui? Atau setiap perguruan tinggi sekarang boleh beramai-ramai membuat jurnal ilmiah secara masal untuk memenuhi ketentuan ini?

Ini belum dilihat dari kemampuan mahasiswa program S-1 dalam hal menghasilkan karya ilmiah. Dalam kenyataannya banyak mahasiswa yang hanya satu kali membuat karya ilmiah selama menjadi mahasiswa.

Ya, itu skripsi. Skripsi pun tidak semuanya benar-benar merupakan karya ilmiah yang bersangkutan. Skripsi bisa dipesan ke tukang jasa dengan membeli seharga tertentu. Atau kalau mau membuat sendiri tinggal cari - cari skripsi yang sudah ada di perpustakaan dan mengetik ulang dengan memodifikasi beberapa bagiannya. Jadilah skripsi yang nampak baru tetapi sebenarnya barang lama, menjadi plagiat.

Plagiasi memang haram dan memalukan. Namun sekarang ini disinyalir mental menerobos banyak yang menghalalkannya. Lagi pula siapa yang sempat mengurusi skripsi jiplakan ini? Semua pada sibuk dengan urusannya sendiri, apalagi kalau memang sudah terciptakan saling ‘pengertian' di antara para pihak yang berkepentingan.

Lain halnya, untuk program Magister maupun program Doktor. Sudah semestinya publikasi makalah yang sudah dimuat pada jurnal ilmiah yang sudah terakreditasi menjadi syarat kelulusan. Bahkan untuk program Doktoral jurnal itu harus sudah internasional. Jangan sampai kualitas para magister dan para doktor tidak jauh bedanya dengan mereka yang lulusan sarjana S-1, tak mengenal karya ilmiah.

Belum semua pemegang gelar magister dan doktor juga benar-benar memenuhi standar kualitas yang selayaknya. Di daerah, tak sedikit yang gelar magisternya berderet tetapi ketika diajak bicara tentang disiplin ilmu yang katanya dipelajari tidak nyambung. Bagaimana mereka akan membuat makalah ilmiah?

Kita berharap aturan baru ini dapat memperbaiki kualitas out put pendidikan tinggi kita. Sebagai orang awam, saya hanya menunggu kiprah para pakar pendidikan kita.

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Berita Terkini" Lainnya