headerphoto

PENGARUH PENGGUNAAN CMS DENGAN MODEL BELAJAR AKTIF DALAM RANGKA PENINGKATKAN PRESTASI STUDI

Jum`at, 19 November 2010 19:20:28 - oleh : admin

Bantul,  19 Nopember 2010

Selama ini, model belajar yang digunakan bertumpu pada kegiatan pengajaran di kelas yang merupakan satu-satunya bentuk pertemuan antara dosen dengan mahasiswa. Itupun dilakukan hanya bersifat satu arah (dosen menyampaikan kuliah dalam bentuk ceramah, sementara mahasiswa mendengarkan atau mencatat). Dengan sistem ini terjadi kesalahan cukup mendasar yaitu: dosen yang aktif belajar dan aktif berbicara, sementara mahasiswa hanya mendengarkan dan mencatat, padahal menurut prinsip-prinsip belajar seharusnya aktivitas belajar harus lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa daripada dosen. Mata kuliah diberikan dengan cara konvensional, yaitu kegiatan lebih banyak dilakukan oleh dosen (belajar, mempersiapkan kuliah, presentasi di depan kelas, menyiapkan ujian, dan mengkoreksi jawaban ujian) sedangkan mahasiswa cenderung pasif (mendengarkan kuliah, mencatat, belajar, dan ujian). Di sisi lain perkembangan teknologi belajar dan pembelajaran sudah mengarah pada penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan kompetensi lulusan secara nyata melalui kegiatan belajar yang lebih efektif dan berpusat pada mahasiswa (student centre). Kondisi ini menunjukkan model pembelajaran yang digunakan memiliki kekurangan yang cukup serius. Selain prestasi studi yang diperoleh, cara-cara belajar konvensional tidak bisa lagi digunakan oleh karena:

1)  Metode belajar konvensional tidak memberikan kompetensi nyata kepada mahasiswa dan tidak bisa menumbuhkan soft skills yang dibutuhkan dalam dunia kerja

2) Materi belajar tidak bisa mencakup knowledge dan skill yang dibutuhkan dunia industri (pemakai). Materi belajar tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan

3) Kurang optimal untuk mencapai tujuan agar lulusan :

- Mempunyai kemampuan analisis.

- Mempunyai ketrampilan teknis (disain dan pemeliharaan).

- Mempunyai problem-solving attitude

- Menjadi continuous learner (meningkatkan kemampuan untuk berkarier)

- Mempunyai soft skills (berkomunikasi, bekerjasama dalam satu tim, dan memiliki jiwa kepemimpinan).

Tujuan utama model belajar ini adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penggunaan ICT terhadap perbaikan prestasi studi mahasiswa dengan cara meningkatkan aktifitas mahasiswa dalam belajar (belajar aktif) melalui kegiatan belajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Kegiatan utama di dalam kelas dari bentuk pengajaran oleh dosen diubah menjadi diskusi kelas. Kegiatan utama di luar kelas dari tak terprogram dan tak terpantau, diubah menjadi bentuk kegiatan belajar mandiri yang terprogram dan terpantau dalam bentuk kuis dan tugas yang dilakukan secara online. Meskipun demikian masalah utama penggunaan teknologi informasi untuk mendukung proses belajar dan pembelajaran pada perguruan tinggi memerlukan disain instruksional yang tepat agar dapat meningkatkan prestasi studi dan kompetensi mahasiswa secara signifikan. Manfaat lain yang diperoleh dengan model ini diharapkan dapat:

1) Memacu peningkatan perolehan belajar mahasiswa pada mata kuliah teknik kendali dasar.

2) Mengkondisikan mahasiswa untuk berlatih membiasakan diri sebagai pelajar mandiri; melalui kegiatan belajar mandiri menggunakan bantuan teknologi informasi.

3) Memacu meningkatkan softskill mahasiswa melalui peningkatan kemampuan berkomunikasi dan kesediaan untuk bekerjasama.

Dengan model belajar tersebut di atas prestasi belajar mahasiswa masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan mayoritas mahasiswa memperoleh nilai E (93.2%), sehingga diperlukan sebuah model belajar yang lebih mendorong mahasiswa untuk aktif belajar dan dosen berfungsi sebagai pendamping dan pengawas. Untuk mewujudkan prinsip ini dibutuhkan teknologi informasi sebagai piranti utama, namun untuk mengintegrasikannya dalam proses belajar mengajar dibutuhkan sebuah model yang teruji; model yang dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada peningkatan prestasi studi mahasiswa.

Menurut Skinner, belajar adalah suatu perubahan perilaku (behaviorisme), pada saat orang belajar maka responnya akan menjadi lebih baik. Sebaliknya bila tidak melakukan aktivitas belajar maka respon terhadap stimulus akan menurun. Constructivism (konstruktivisme) adalah filosofi belajar menurut pandangan Piaget yang berdasarkan pada pemikiran bahwa: belajar adalah pengalaman yang disusun berdasarkan pengertian-pengertian tentang lingkungannya. Setiap individu membangun aturan dan model mental belajar sendiri-sendiri untuk menambah dan menggunakan pengalaman. Jadi pengertian belajar adalah proses penyesuaian model mental yang sederhana untuk mengakomodasi pengalamanpengalaman baru, dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek seseorang semakin berkembang. E-Learning dapat memperbaiki cara-cara mahasiswa belajar, dapat memperbanyak obyek belajar, dan menyediakan caracara penyajian belajar dengan kualitas tinggi (NASBE, 2001). Implementasi e-learning memerlukan strategi dan caracara disain instruksional yang tepat untuk menjamin keberhasilan (Felix, 2006). Dengan cara-cara computer dimungkinkan adanya test atau ujian praktis untuk memberikan umpan balik bagi proses belajar (Eric Shepherd dan Janet Godwin, 2004).

Ada beberapa masalah yang dapat diambil yaitu:

1) Prestasi studi mahasiswa sangat rendah (dalam hal ini dapat disebabkan karena dalam proses belajarmengajar dosen lebih aktif daripada mahasiswa (sistem belajar masih menggunakan cara konvensional/ceramah).

2) Belum tercipta suasana akademis oleh karena interaksi antara dosen dan mahasiswa hanya terbatas di kelas dan bersifat satu arah saja.

3) Aktifitas belajar mahasiswa masih kurang, dalam hal ini dapat dilihat dari tingkat kehadiran seorang mahasiswa pada perkuliahan rata-rata 78% (data jurusan), jumlah mahasiswa yang tidak mengikuti ujian akhir pada mata kuliah ini mencapai 13.4%.

Untuk menyelesaikan masalah di atas perlu tindakan untuk mengubah pola belajar agar lebih banyak mahasiswa yang mampu mencapai tujuan umum mata kuliah melalui:

1) Menerapkan sistem belajar aktif sehingga kegiatan belajar lebih banyak dilakukan oleh mahasiswa menggunakan bantuan teknologi informasi, kegiatan belajar dibagi menjadi dua: di dalam kelas (offline) dan di luar kelas (online). Kegiatan di dalam kelas merupakan tugas kelompok (diskusi), sedang di luar kelas bersifat individu (tugas dan kuis) atau kelompok dalam luliah lapangan..

2) Mengurangi kegiatan ceramah (mengajar) dosen dan meningkatkan peran dosen sebagai pendamping, pembimbing, dan pengawas kegiatan belajar mahasiswa.

Penerapan sistem belajar aktif

Melalui sistem belajar aktif ini kegiatan perkuliahan di kelas dimulai dengan ceramah dosen 15 menit untuk menyampaikan ringkasan kuliah dan memberikan topik diskusi, waktu selebihnya digunakan oleh mahasiswa untuk berdiskusi. Diskusi dilakukan secara berkelompok, setiap kelompok maksimum 3 orang mahasiswa. Pembagian kelompok ini dapat mempermudah dosen dalam mendampingi diskusi dan untuk mempermudah pemantauan kehadiran mahasiswa dan aktivitas diskusi. Hasil dari diskusi berupa laporan dan diperiksa sebagai bahan penilaian.

Menggunakan Teknologi Informasi

Cara kuliah sebelumnya tidak ada komunikasi sedikitpun antara dosen dan mahasiswa yang berkaitan dengan mata kuliah setelah mahasiswa meninggalkan ruang kuliah, kecuali jika ada tugas rumah. Komunikasi antara dosen dan mahasiswa selain bersifat searah juga waktunya sangat terbatas, padahal komunikasi antara mahasiswa dan dosen diluar kelas seharusnya lebih banyak karena belum tentu mahasiswa dapat menyerap sepenuhnya materi yang disampaikan dosen.

Dengan menggunakan CMS (Course Management System) komunikasi antara dosen dan mahasiswa terbentuk tanpa terbatas ruang dan waktu (dari percobaan rata-rata ada 6 berita per hari), selain itu aktivitas mahasiswa yang bersifat "online" dapat meningkatkan aktivitas belajar mahasiswa dalam bentuk membaca bahan kuliah, forum diskusi, kuis, tugas individu, dan ujian.

Pencarian bahan kuliah (searching)

Pencarian bahan kuliah merupakan kegiatan untuk mendorong mahasiswa agar mampu menggunakan teknologi informasi untuk mencari sumber atau bahan ajar untuk keperluan pengkayaan wawasan mahasiswa. Dalam kuliah Teknik Kendali Dasar akan disediakan bahan ajar, bahan bacaan, dan tugas dalam bentuk dokumen yang setiap saat bisa diambil oleh mahasiswa (download), selain itu ada informasi situs-situs internet yang terkait dengan topik mata kuliah.

Forum diskusi

Forum diskusi digunakan untuk melihat cara berfikir mahasiswa terhadap suatu masalah yang berhubungan dengan suatu topik mata kuliah dan dosen dapat berkontribusi pada forum. Forum diskusi bukan sebagai bahan penilaian tetapi cenderung hanya sebagai media untuk saling tukar menukar pikiran antara dosen mahasiswa dan antar mahasiswa. Dosen cukup memancing diskusi dengan sebuah topik dan mendorong mahasiswa untuk memberikan pendapatnya. Topik yang

akan dikeluarkan berkisar antara 2 hingga 4 setiap semester.

Tugas (assignment)

Tugas merupakan cara untuk mendorong mahasiswa agar secara rutin belajar pada materi atau topik mingguan, sehingga setelah mengikuti diskusi di kelas masih harus belajar untuk lebih memperdalam materi kuliah. Tugas dikumpulkan melalui sarana teknologi informasi sehingga dosen dapat mengoreksi dan memberikan penilaian secara mudah. Di samping itu cara ini sangat memungkinkan dosen untuk memberikan tanggapan (feedback) pada mahasiswa sehingga terbentuk komunikasi dua arah antara dosen dan mahasiswa.

Kuis

Kuis merupakan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa secara mandiri ataupun berkelompok untuk berdiskusi di luar jam kelas. Kuis dikeluarkan sebanyak 10 soal untuk setiap minggu dengan jawaban dan soal yang acak, setiap mahasiswa diberi kesempatan 3 kali mengulang dan diambil yang terbaik. Tahap pertama cadangan soal tersedia antara 15 hingga 30 soal. Cara ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa untuk berdiskusi memecahkan masalah, sehingga setiap mahasiswa berusaha untuk mempelajari kembali materi yang telah dibaca dan dibahas.

Ujian

Ujian merupakan kegiatan mandiri mahasiswa dan dilakukan pada tanggal dan waktu yang terbatas. Ujian tidak dilakukan di dalam kelas tetapi dilakukan secara online. Untuk menekan kerjasama antar mahasiswa, maka setiap mahasiswa diberi kesempatan hanya satu kali, soal yang dikeluarkan acak dengan jawaban yang acak. Materi dan bentuk ujian sama dengan materi ujian komputer yang digunakan pada test sebelumnya. Hal ini berguna untuk mengetahui pengaruh implementasi pembelajaran aktif dengan CMS terhadap prestasi studi mahasiswa. Penilaian berbeda dengan cara penilaian sebelumnya.

Meningkatkan peran dosen

Dalam kegiatan di kelas (offline) dosen berfungsi sebagai pemberi materi kuliah, pengarah diskusi, nara sumber, dan pendamping diskusi, memotivasi mahasiswa, mengawasi tingkah laku mahasiswa selama di kelas. Jika dibandingkan dengan cara konvensional dosen mempunyai kegiatan yang lebih beragam tetapi lama waktu berkegiatan dikelas tetap sama. Metode belajar aktif ini mengharuskan dosen untuk selalu menyiapkan perkuliahan secara matang, karena dosen

dan mahasiswa secara bersama-sama harus tertib waktu karena semua terikat pada aturan dan tujuan yang ditentukan dalam SAP dan jadwal yang diset secara rapi dalam CMS. Dosen diberi fasilitas yang mengharuskan untuk selalu memantau perkembangan dan kegiatan setiap mahasiswa, selain itu dosen diberi kemudahan dalam melakukan koreksi tugas-tugas mahasiswa sehingga dosen lebih berkonsentrasi untuk memberikan tanggapan dan motivasi pada setiap mahasiswa yang mengumpulkan tugas. Dengan CMS, dosen mempunyai kesempatan untuk meningkatkan mutu proses belajar mengajar. Ini disebabkan karena tersedianya fasilitas analisis dalam bentuk data statistik penilaian. Selain itu disediakan fasilitas untuk memantau mutu soal kuis (ujian) dalam bentuk analisis data statistik. Secara tidak langsung suasana belajar (academic atmosphere) terbentuk karena interaksi dosen mahasiswa terjadi baik di dalam kelas maupun di luar kelas dan tak terbatas ruang dan waktu.

 Buku Ajar

Buku didisain agar dapat digunakan mahasiswa untuk belajar mandiri secara online dengan memuat: Silabus (GBPP), SAP, materi kuliah, tugas, bahan bacaan yang diambilkan dari buku referensi, latihan ujian, dan tugas. Penulisan Silabus (GBPP) dan SAP dicantumkan dengan susunan yang tidak baku tetapi disajikan secara lebih menarik tanpa mengurangi makna, sehingga diharapkan mahasiswa lebih tertarik untuk membacanya. Tujuan belajar ditulis secara lengkap sehingga mahasiswa tahu arah belajarnya. Buku ajar yang dibuat merupakan bahan ajar yang berbeda dengan buku teks, bahan ajar disusun dan dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip instruksional menggunakan teknologi informasi dan dibuat menarik. Penulisan buku bertujuan untuk:

1) Meningkatkan kemandirian mahasiswa dalam belajar, sehingga perlu dibuat selengkap mungkin dengan penataan yang semenarik mungkin dan digunakan sebagai suplemen saat mahasiswa belajar di depan komputer.

2) Mengurangi dosen dalam memberikan kuliah dan mendorong mahasiswa untuk mengerjakan tugas yang ada di dalam buku ajar secara bersama-sama dan membahas dalam bentuk diskusi kelompok, sehingga dosen cenderung menjadi pembimbing, pendamping, dan pengawas proses belajar.

Implementasi model ini, kegiatan kelas dan kegiatan di luar kelas direncanakan dalam bentuk kegiatan mingguan, meliputi kegiatan kelompok (di dalam kelas) dalam bentuk diskusi dan dilanjutkan pada kegiatan mandiri secara online dalam bentuk kuis dan tugas.

Kesimpulan

Bila dibandingkan antara proses pembelajaran dengan model konvensional dengan model belajar aktif menggunakan Course Management System (CMS) pada mata kuliah Teknik Kendali Dasar ini terlihat persentase partisipasi untuk mengikuti ujian yang naik, perolehan hasil ujian yang naik, persentase partisipasi dalam kegiatan kelas yang turun, serta ragam kegiatan belajar yang naik. Dilihat hasil secara keseluruhan, pengaruh penggunaan cara belajar aktif dibantu dengan teknologi informasi tidak hanya pada hasil nilai yang diperoleh yang telah meningkat, tetapi telah terjadi pergeseran kegiatan dosen dan mahasiswa dengan sistem belajar aktif yang cukup mencolok. Peran dosen tidak lagi fokus sebagai pengajar tetapi sebagai pengatur, pendamping, dan pemantau kegiatan belajar mahasiswa. Kegiatan mahasiswa tidak hanya berkutat pada dirinya sendiri yaitu mengikuti kuliah, belajar, mengerjakan tugas, dan ujian, tetapi mahasiswa dikondisikan untuk dapat meningkatkan kemampuan diri, belajar berkomunikasi dengan orang lain dan belajar cara belajar untuk menuju kemandirian belajar. Secara tidak langsung sistem ini membantu terciptanya akademik atmosfer oleh karena mahasiswa lebih aktif belajar dan interaksi antara mahasiswa dengan dosen lebih banyak

Pustaka :

1. Dr. Dimyati dan Drs. Mudjiono, 2002, Belajar dan Pembelajaran, Cetakan kedua, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan - PT. Rineka Cipta, Jakarta

2.  Elwin Tobing, 2005, Pengangguran Tenaga Terdidik, Media Indonesia 1/8/1994 (update). Conner, Marcia L., 1996, Learning: The Critical Technology, 2nd edition, Wave Technology International, St. Louis, Missouri, USA

3.  Graaff, E., 2005, Active Learning in Engineering, Delf University of Technology, Delf, Netherland

4. Hernacki, M., dan Porter, B., 2003, Quantum Learning: membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan, terjemahan Alwiyah Abdurrahman, PT. Mizan Pustaka, Bandung.

5.  Modritscher, Felix, 2006, E-Learning theories in practice: A comparison of three methods, Institute for Information System and Computer Media (IICM), Graz University of Technology, Austria, pp 15.

6. Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, 2002, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi Revisi, PT. Bumi Aksara, Jakarta

7. Suharsimi Arikunto, 2003, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Edisi Revisi, PT. Bumi Aksara, Jakarta

8. ---------, 2001, Any Time, Any Place, Any Path, Any Pace: Taking the Lead on e-Learning Policy, National Association of State Boards Education (NASBE).

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Sain dan Teknologi" Lainnya